Apakah tim Anda mampu mengambil keputusan sendiri, atau hampir setiap masalah masih harus menunggu jawaban dari Anda?
Ada fase dalam kepemimpinan ketika hampir semua hal berakhir di meja leader. Tim menunggu persetujuan sebelum bertindak, meminta solusi untuk masalah operasional, bahkan ragu mengambil keputusan yang sebenarnya masih berada dalam lingkup tanggung jawab mereka.
Tanpa disadari, leader menjadi pusat dari hampir setiap keputusan. Beban kerja semakin menumpuk, sementara tim semakin terbiasa menunggu arahan.
Sekilas, situasi ini mungkin terlihat seperti kebutuhan akan lebih banyak instruksi. Namun, persoalan sebenarnya bisa jadi lebih mendasar: apakah tim sudah diberi kesempatan untuk mengembangkan cara berpikirnya sendiri?
Ketika leader selalu memberikan jawaban, pekerjaan mungkin selesai lebih cepat dalam jangka pendek. Namun, kemampuan tim untuk menganalisis situasi, mengambil inisiatif, dan belajar dari keputusan yang dibuat berisiko tidak berkembang secara optimal.
Di sinilah coaching menjadi keterampilan penting dalam kepemimpinan.
Ownership tidak tumbuh ketika leader berhenti membantu. Ownership tumbuh ketika leader tahu bagaimana membantu—kapan harus memberi arahan dan kapan harus mengajukan pertanyaan yang mendorong tim berpikir serta bertindak mandiri.
Directing dan Coaching: Dua Pendekatan, Dua Tujuan Penting
Directing dan coaching bukan dua pendekatan yang harus dipertentangkan. Keduanya memiliki fungsi berbeda dan sama-sama dibutuhkan untuk memimpin tim secara efektif.
Directing membantu tim bergerak dengan memberikan kejelasan, prioritas, dan keputusan yang tegas. Sementara itu, coaching membantu tim mengembangkan kemampuan berpikir, mengevaluasi pilihan, dan mengambil tanggung jawab atas keputusan mereka.
Tantangannya bukan menentukan pendekatan mana yang paling baik untuk setiap situasi, melainkan memahami kapan tim membutuhkan arahan yang jelas dan kapan mereka membutuhkan ruang untuk berpikir.
Leader yang efektif tidak selalu menjadi orang yang paling cepat memberikan jawaban. Ia mampu membaca situasi, memahami kebutuhan tim, dan memilih respons yang paling membantu.
1. Directing: Memberi Arah Saat Kejelasan dan Kecepatan Dibutuhkan
Directing adalah pendekatan ketika leader memberikan instruksi yang jelas mengenai apa yang harus dilakukan, standar yang perlu dicapai, serta kapan tindakan harus dilaksanakan.
Dalam situasi tertentu, memberikan arahan bukan hanya wajar, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab seorang leader.
Bayangkan ketika terjadi gangguan operasional yang berisiko menghambat bisnis. Tim tidak selalu membutuhkan diskusi panjang untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan. Mereka membutuhkan prioritas yang jelas, keputusan yang tepat, dan tindakan yang dapat segera dijalankan.
Directing umumnya dibutuhkan ketika:
- Urgensi tinggi. Waktu untuk mengevaluasi pilihan sangat terbatas dan keterlambatan dapat memperbesar masalah.
- Risiko tinggi. Keputusan berkaitan dengan keselamatan, kepatuhan, reputasi, atau dampak signifikan terhadap organisasi.
- Standar belum jelas. Tim membutuhkan panduan mengenai prioritas, batasan, atau kualitas hasil yang diharapkan.
- Kompetensi dasar belum terbentuk. Anggota tim masih membutuhkan instruksi untuk memahami proses dan fondasi pekerjaannya.
- Keputusan berada dalam kewenangan leader. Tanggung jawab formal mengharuskan leader mengambil keputusan dan memberikan arahan.
Memberikan jawaban bukanlah kesalahan. Masalah muncul ketika instruksi menjadi satu-satunya cara leader membantu tim.
Jika setiap pertanyaan langsung dijawab dengan solusi, tim dapat terbiasa menunggu daripada menilai situasi. Mereka mungkin menyelesaikan tugas, tetapi belum tentu mengembangkan kemampuan untuk menentukan langkah berikutnya secara mandiri.
Karena itu, directing seharusnya memberikan kejelasan ketika dibutuhkan, bukan menciptakan ketergantungan terhadap arahan leader.
Bahkan ketika keputusan harus diberikan secara langsung, leader tetap dapat menjelaskan alasan di baliknya agar tim memahami prinsip yang digunakan dan belajar untuk menghadapi situasi serupa di masa depan.
2. Coaching: Mengembangkan Cara Berpikir, Bukan Sekadar Memberi Jawaban
Jika directing membantu tim mengetahui apa yang perlu dilakukan, coaching membantu mereka memahami bagaimana menganalisis situasi dan menentukan tindakan yang tepat.
Dalam pendekatan coaching, leader tidak langsung mengambil alih proses berpikir anggota tim. Sebaliknya, leader membantu mereka melihat masalah dengan lebih jelas, mempertimbangkan berbagai pilihan, dan membuat keputusan berdasarkan alasan yang kuat.
Melalui percakapan coaching, leader mendorong anggota tim untuk:
- Memahami situasi. Mengidentifikasi fakta, asumsi, dan informasi yang masih perlu digali.
- Mengeksplorasi pilihan. Melihat alternatif solusi, bukan hanya terpaku pada pilihan pertama.
- Mengevaluasi konsekuensi. Mempertimbangkan risiko, dampak, dan trade-off dari setiap pilihan.
- Menentukan tindakan. Memilih langkah yang paling masuk akal berdasarkan kondisi yang dihadapi.
- Belajar dari hasil. Mengevaluasi keputusan, memahami apa yang berhasil, dan memperbaiki hal yang masih perlu dikembangkan.
Dalam proses ini, leader tidak kehilangan perannya. Justru, perannya berkembang dari sumber semua jawaban menjadi partner berpikir yang membantu tim meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.
Hasil yang diharapkan bukan sekadar masalah yang berhasil diselesaikan, tetapi juga kemampuan yang dapat digunakan kembali ketika menghadapi tantangan berikutnya.
Tujuan coaching bukan membuat leader semakin jarang membantu, melainkan membuat bantuan yang diberikan semakin mampu mengembangkan orang lain.
Kapan Leader Perlu Memberi Jawaban, dan Kapan Perlu Bertanya?
Salah satu tantangan dalam menerapkan coaching adalah mengetahui kapan harus menggunakannya.
Tidak semua masalah membutuhkan percakapan coaching. Sebaliknya, tidak semua pertanyaan anggota tim harus dijawab dengan instruksi langsung.
Pertanyaan yang lebih tepat untuk seorang leader adalah: Apa yang paling dibutuhkan tim saat ini agar dapat bergerak dengan jelas, aman, dan efektif?
Saat memberikan jawaban adalah pilihan terbaik
Leader perlu memberikan arahan ketika keputusan harus diambil segera, risiko kesalahan terlalu besar, atau anggota tim belum memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengevaluasi pilihan.
Arahan juga diperlukan ketika leader menetapkan standar baru, menjelaskan batas kewenangan, atau mengambil keputusan yang memang menjadi tanggung jawabnya.
Namun, keputusan langsung tetap dapat menjadi kesempatan belajar.
Misalnya, setelah menetapkan langkah yang harus dilakukan, leader dapat menjelaskan alasan di balik keputusan tersebut dan mengajak tim mengevaluasi alternatif lain setelah situasi terkendali.
Dengan begitu, tim tidak hanya mengikuti instruksi, tetapi juga memahami pertimbangan yang mendasarinya.
Saat mengajukan pertanyaan dapat memberikan dampak lebih besar
Coaching lebih relevan ketika anggota tim memiliki cukup pengetahuan dan konteks untuk menganalisis masalah, situasi tidak mendesak, dan tujuan percakapan adalah membangun kemandirian.
Alih-alih langsung menawarkan solusi, leader dapat mengajukan pertanyaan seperti:
- “Apa yang sedang terjadi menurut Anda?”
- “Pilihan apa yang tersedia saat ini?”
- “Apa pertimbangan di balik setiap pilihan?”
- “Apa risiko atau konsekuensi yang perlu diperhatikan?”
- “Langkah apa yang paling masuk akal untuk Anda ambil?”
- “Dukungan apa yang Anda perlukan dari saya?”
Pertanyaan-pertanyaan ini membantu anggota tim menyusun pemikiran, melihat alternatif, dan mengambil tanggung jawab atas langkah yang dipilih.
Namun, kualitas coaching tidak ditentukan oleh banyaknya pertanyaan. Satu pertanyaan yang tepat dapat lebih bermakna daripada serangkaian pertanyaan yang membuat percakapan terasa seperti interogasi.
Dengarkan jawaban anggota tim, beri waktu untuk berpikir, dan ajukan pertanyaan lanjutan hanya ketika diperlukan.
Yang tidak kalah penting, leader perlu memastikan bahwa coaching tidak digunakan untuk menghindari tanggung jawab. Jika keputusan memang berada dalam kewenangan leader, memberikan pertanyaan tanpa arah justru dapat membuat tim kebingungan dan memperlambat pekerjaan.
Coaching bukan tentang selalu bertanya. Coaching adalah tentang membantu orang berpikir lebih baik, tanpa mengabaikan tanggung jawab leader untuk memimpin.
Bagaimana Pendekatan Leader Memengaruhi Ownership Tim?
Ownership terlihat ketika anggota tim tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga memahami tujuan pekerjaannya, berani mengambil keputusan dalam batas kewenangannya, dan bersedia bertanggung jawab atas hasilnya.
Cara leader merespons pertanyaan dan masalah sehari-hari turut membentuk perilaku tersebut.
Ketika directing digunakan secara berlebihan, tim dapat terbiasa menunggu instruksi. Inisiatif menurun, pengambilan keputusan melambat, dan semakin banyak persoalan harus diteruskan ke level yang lebih tinggi.
Akibatnya, leader menjadi bottleneck: pekerjaan tertahan karena terlalu banyak keputusan bergantung pada satu orang.
Di sisi lain, jika leader hanya menggunakan coaching dan enggan memberikan arahan, tim juga dapat mengalami kesulitan. Mereka mungkin kebingungan, menunda keputusan, atau merasa dibebani untuk menyelesaikan persoalan yang sebenarnya membutuhkan keputusan tegas dari leader.
Karena itu, ownership tidak dibangun dengan mengurangi bantuan secara otomatis. Ownership dibangun dengan menyesuaikan bentuk bantuan terhadap kebutuhan situasi dan kemampuan anggota tim.
Ada kalanya tim membutuhkan instruksi yang jelas. Ada kalanya mereka membutuhkan pertanyaan yang membuka perspektif baru. Ada pula saat mereka membutuhkan umpan balik untuk memahami hasil dari keputusan yang telah diambil.
Ukuran keberhasilan coaching bukan seberapa sedikit leader berbicara, melainkan seberapa baik anggota tim berkembang dalam memahami situasi, mengambil keputusan, dan bertindak tanpa harus selalu menunggu arahan.
Menemukan Keseimbangan antara Directing dan Coaching
Bagaimana leader menentukan pendekatan yang tepat?
Gunakan beberapa pertimbangan sederhana: urgensi, tingkat risiko, kompetensi, pengalaman, dan dampak keputusan.
PertimbanganCenderung DirectingCenderung CoachingUrgensi dan risikoSituasi mendesak, berisiko tinggi, atau membutuhkan keputusan segeraTersedia waktu untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi pilihanKompetensi dan pengalamanPengetahuan dasar belum dikuasai atau pengalaman masih terbatasAnggota tim memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk menilai pilihanDampak keputusan.
| Pertimbangan | Cenderung Directing | Cenderung Coaching |
|---|---|---|
| Urgensi dan risiko | Situasi mendesak, berisiko tinggi, atau membutuhkan keputusan segera | Tersedia waktu untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi pilihan |
| Kompetensi dan pengalaman | Pengetahuan dasar belum dikuasai atau pengalaman masih terbatas | Anggota tim memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk menilai pilihan |
| Dampak keputusan | Berdampak luas atau berada dalam kewenangan leader | Risikonya dapat dikelola dan prosesnya dapat menjadi ruang belajar |
Kerangka ini bukan aturan yang kaku. Anggota tim berpengalaman pun dapat membutuhkan arahan ketika situasi mendesak. Sebaliknya, anggota tim yang masih berkembang tetap dapat diajak berpikir ketika risikonya rendah dan tersedia ruang untuk belajar.
Dalam praktiknya, directing dan coaching bahkan dapat digunakan dalam satu percakapan.
Leader dapat memulai dengan pertanyaan untuk memahami analisis anggota tim, kemudian memberikan arahan jika terdapat risiko yang belum dipertimbangkan. Atau, leader dapat menetapkan keputusan awal, lalu menjelaskan alasan dan prinsip di balik keputusan tersebut agar tim mendapatkan pembelajaran.
Keseimbangan bukan berarti menggunakan kedua pendekatan dengan porsi yang sama. Keseimbangan berarti memilih pendekatan yang paling sesuai dengan kebutuhan situasi, tujuan pekerjaan, dan perkembangan anggota tim.
Memimpin agar Tim Mampu Bergerak Mandiri
Directing membantu tim bergerak sekarang. Coaching membantu tim mengembangkan kemampuan untuk bergerak lebih mandiri di masa depan.
Keduanya memiliki peran penting. Directing memberikan kejelasan ketika kejelasan dibutuhkan, sedangkan coaching membangun kesadaran, kualitas pertimbangan, dan keberanian mengambil keputusan ketika ruang untuk belajar tersedia.
Leader yang efektif bukanlah orang yang selalu memiliki jawaban, tetapi juga bukan orang yang selalu mengembalikan pertanyaan kepada tim.
Ia mampu membaca situasi, mengambil tanggung jawab ketika diperlukan, dan tetap membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang.
Pada akhirnya, keberhasilan seorang leader tidak hanya terlihat dari seberapa cepat masalah diselesaikan atau seberapa sering tim meminta bantuannya. Keberhasilan juga terlihat dari kemampuan tim untuk berpikir jernih, mengambil keputusan, dan bertindak dengan percaya diri bahkan ketika leader tidak berada di ruangan.
Mulai dari Satu Percakapan
Perubahan pola kepemimpinan tidak harus dimulai dengan langkah besar. Leader dapat memulainya dari satu percakapan sehari-hari dengan anggota tim.
Saat seseorang datang membawa masalah yang masih bisa dianalisis secara mandiri, tahan sejenak dorongan untuk langsung memberikan solusi.
Cobalah langkah berikut:
- Tanyakan, “Apa yang sedang terjadi menurut Anda?”
- Beri ruang bagi anggota tim untuk menjelaskan pilihan dan pertimbangannya.
- Berikan arahan langsung jika urgensi, risiko, atau kewenangan memang mengharuskannya.
- Akhiri percakapan dengan menyepakati langkah berikutnya dan dukungan yang diperlukan.
Satu pertanyaan tidak akan langsung mengubah seluruh pola kepemimpinan. Namun, pertanyaan yang tepat dapat menjadi awal dari perubahan penting: dari tim yang menunggu jawaban menjadi tim yang mampu menemukan solusi, mengambil tanggung jawab, dan terus berkembang.
Karena kepemimpinan bukan hanya tentang menyelesaikan masalah hari ini, tetapi juga tentang membangun kemampuan orang lain untuk menghadapi tantangan esok hari.
